Labels

Rabu, 25 April 2012

Kontingen Mahasiswa Indonesia Raih Predikat Terbaik II pada Ajang Festival Budaya antar Bangsa di Madinah


Tampil dengan kostum dan masakan khas daerah yang beraneka rasa, mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah (UIM) yang tergabung dalam Kemanduban Mahasiswa Indonesia berhasil meraih predikat kontingen terbaik kedua mengungguli para pesaingnya pada ajang Festival Budaya antar Bangsa di Madinah pada Senin malam (23/4).

Festival Budaya yang dihelat untuk kali kedua oleh UIM ini berhadiah uang tunai, tiket liburan gratis, dan sejumlah souvenir menarik lainnya serta diikuti oleh para mahasiswa UIM yang mewakili 52 negara.

Pada festival tersebut, kontingen Tajikistan berhasil menjadi kontingen terbaik I, disusul Indonesia di tempat kedua, kemudian diikuti secara berurutan oleh Afganistan, Thailand, Palestina, Nigeria, Togo, China, Suriah, dan Malaysia.



Acara yang berlangsung di halaman terbuka Universitas Islam Madinah (UIM) ini dibuka secara resmi oleh Rektor UIM, Prof. Dr. Mohammad Ali Al-Oqla, disaksikan oleh sivitas akademika dan para tamu undangan.

Penilaian dewan juri difokuskan pada keunikan, keindahan, dan kepaduan dekorasi dengan tema yang diusung, aneka makanan dan minuman khas daerah negara peserta, serta keterampilan peserta dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan dewan juri.

Kontingen Indonesia yang tampil atraktif dengan berbusana adat Jawa yang didominasi warna merah menyala dengan segala pernak-perniknya lengkap dengan blankon, berpakaian adat sunda, serta mengenakan batik dengan penutup kepala terbuat dari serabut pohon bertuliskan “Provinsi Gorontalo” mampu memikat para pengunjung yang berebut mengambil gambar.

Sejumlah poster yang memperlihatkan keanekaragaman keindahan dan kekayaan alam Indonesia turut ditampilkan pada dinding pembatas stan pameran lengkap dengan bendera dan peta Indonesia yang dipadu dengan pertunjukan cuplikan film destinasi wisata di sejumlah daerah Indonesia dan slide-slide pilihan nan memukau.



Tak kalah menarik adalah sajian masakan khas dan buah-buahan Indonesia yang menggoda selera pengunjung. Nasi tumpeng, rendang, sate, gurame saos, otak-otak bandeng, semur telor, gado-gado, udang saus lengkap dengan sajian minuman es buah, bubur kacang ijo, pisang cokelat dan hidangan pencuci mulut berupa rambutan, kelengkeng dan lain-lain berjejer rapih di atas meja.

“Ini semua kami yang masak, Pak,” ujar salah seorang peserta kepada Konsul Pensosbud KJRI Jeddah Cahyono Rustam, yang menyempatkan hadir pada festival untuk mendukung langsung kontingen Indonesia.

“Ada rambutan?” Tanya Rektor UIM saat merapat ke stan kontingen Indonesia beserta sejumlah tamu penting lainnya. Dengan sigap seorang peserta mengupaskan sebiji rambutan dan menyuguhkannya. Penasaran, ia pun mencoba sajian lainnya. Selanjutnya tanpa dikomando para pengunjung lain pun ikut menyerbu stan Indonesia dan berkerumun di sekitarnya.



Keberhasilan menyabet peringkat kedua pada festival kali ini mampu mengobati kekecewaan kontingen Indonesia Indonesia yang gagal masuk 10 besar kontingen terbaik pada festival budaya tahun sebelumnya.

“Keikutsertaan mahasiswa kita dalam ajang festival budaya ini merupakan salah satu sarana mempromosikan kekayaan budaya dan citra positif Indonesia di luar negeri,” ujar Cahyono Rustam. (KJRI Riyadh)



Rabu, 21 Maret 2012

" Sebulan Dalam Dekapan "


Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setelah semaleman transit di Dubai International, Alhamdulillah pukul 07.30 pagi (GMT+3) tanggal 13 Feb 2011 dengan izin Allah, si empunya catatan alias sahabat madinah tiba di Saudi Arabia dengan selamat. Pertama kali menginjakkan kakinya di Negeri Mubarokah ini tepatnya di distrik Yanbo’, sebelah barat kota madinah. Subhanallah, berasa masih di alam mimpi tapi lebih dari sekedar ‘sang pemimpi’.
Dari Airport menuju kampus mega besar UIM (Universitas Islam Madinah). Sampai di sana langsung disambut dengan ramah dan hangat oleh kakak-kakak senior Mahasiswa UIM (Universitas Islam Madinah) dengan pakaian khas islami gamis dan jubah.


Panitia penyambutan mempersilakan kami masuk ke gedung fakultas Dakwah wa Ushuluddin (paling joss bangunannya), tempat berlangsungnya acara Penyambutan Mahasiswa Baru UIM 2012. Acara inti dimulai dengan sambutan ketua mandub Mahasiswa Indonesia UIM, dilanjutkan dengan pengarahan Mahasiswa Baru. Hingga tibalah acara yang sangat ditunggu-tunggu sejak kedatangan di Airport sampai di kampus, bukan lain adalah ‘acara untu’. Dengan menu fakhm (ingkung ayam) dan ruz Bukhori (nasi bukhori), Alhamdulillah sangat menggugah ‘selera santri’, dengan lahab kami santap hingga tak rela kami sisakan nasi walau hanya sebutir (maklum, wueenak pooll). Ba’da Maghrib dilanjutkan dengan pembagian kamar dan sulfah (uang pinjaman sebelum menerima mukafaah/uang saku).

Sehabis sholat Isya’ kami diantar menuju asrama Maba yang lumayan jauh dari kampus. Asrama ini khusus diperuntukkan bagi Maba yang terlambat datang, termasuk kafilah Indonesia. MaaSyaaAllah, walaupun agak jauh dari kampus, tapi tak mengurangi semangat kami tuk segera merebahkan badan, menikmati suasana kamar baru. Apalagi setelah kami tahu kalau asrama ini lebih dekat dengan harom (sebutan masjid Nabawy). Sueenengnya hati ini, ga kebayang sebelumnya kalau tiap hari bisa sholat di masjid ini, ya tinggal kali aja tiap sholatnya dengan pahala 1000 kali sholat di masjid manapun kecuali masjidil harom, Mekkah. Hehe…ayo sob, buruan ke sini..;). Udah gitu bisa menjadi tamu Rasulullah saja berasa istimewa bagi setiap muslim, apalagi kalau tiap hari bisa minum air zam-zam yang kata Rasulullah air barokah ini sesuai dengan kehendak si peminum, so dianjurkan tiap kali minum agar berdoa minta apa saja sama Allah, InSyaaAllah mustajab. Wiiih,…Amazing, Guys!  La Hawla wa la Quwwata Illa billah.

Kembali ke laptop!
Jiwa muda plus semangat yang membara bikin sahabat pengin cepet-cepet bisa ngrasain bangku kuliah. Belum lagi kalau inget kawan-kawan SD-SMP yang udah pada hampir selesei kuliah, malah ada yang udah nikah. Hmm, Qodarollah kami masih harus lebih bersabar lagi wat nunggu proses registrasi dan tes kesehatan yang lumayan memakan waktu, yah kurang lebih selama tiga mingguan (kalo kaya gini kapan nikahnya nie? Hehe..softoh jal, alias gojekan thog). Btw, ma fi isykal alias no problem coz masih banyak hal-hal yang bermanfaat untuk mengisi kekosongan.

Ngapain aja tuh?
Berkunjung ke Mujamma’ Malik Fahd (Percetakan Mushaf Al Qur’an).
Di sini sahabat madinah bersama kawan-kawan bisa melihat langsung proses percetakan mushaf dalam jumlah besar di Saudi Arabia yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai negera di seluruh dunia, termasuk pula Ibu pertiwi Indonesia. Enaknya lagi, semua pengunjung dipersilakan mengambil satu mushaf di antara mushaf-mushaf dengan berbagai ukuran ataupun mushaf yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sampai ada kawan yang berniat datang kemari seminggu sekali agar bisa mengoleksi mushaf terjemah manca Negara. MasyaaAllah Tabaarokallaah, Asyik bukan?

Apa lagi sih? 
Masih banyak sob, lebih seru lagi. Alhamdulillah, beberapa kemudahan sahabat rasakan di awal-awal tinggal di kampus baru. Walaupun belum bisa masuk kuliah, paling tidak bisa observasi lapangan lah, sambil jalan-jalan kota Madinah (gratis lagi, siapa yang ga maaau??). Di akhir pekan ketiga ini, sahabat dapat kesempatan ikut ‘mencari jejak’ alias napak tilas jejak Rasulullah dan para sahabat di kota Madinah. Alhamdulillah, cocok banget dengan jiwa sahabat yang emang pecinta alam banget (baca: suka jalan-jalan). Bertajuk acara santai akhir pekan, dengan menaiki bis kami mengunjungi situs-situs bersejarah di sekitar Madinah. Tujuan pertama adalah Jabal Uhud (Gunung Uhud).

Lagi-lagi sahabat hanya bisa berucap Subhanallah walhamdulillah “agar lisan ini selalu basah dengan dzikir kepada Allah”. Sungguh pengalaman baru yang mengesankan bisa melihat langsung saksi bisu peperangan dahsyat antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Gunung bersejarah ini memiliki panjang 6 km. Di tengah-tengah antara Jabal Uhud dan Jabal Rumah terdapat makam Syuhada’ Uhud (Para Sahabat yang mati syahid dalam perang uhud). Saking penginnya napak tilas, sahabat sempatin lepas sandal, biarlah paling tidak sudah pernah meninggalkan 'jejak kaki' sebagaimana para sahabat yang lebih dahulu meninggalkan jejaknya (walaupun berbeda jenis, zaman dan kondisi ^.^)

Rihlah berlanjut menuju Khondaq (Parit). Tempat berlangsungnya perang khondaq. Di mana Rasulullah dan para sahabatnya menggali Khondaq sedalam 6 meter sepanjang 2 km dalam waktu dua minggu sebagai setrategi perang guna menghalau serbuan kaum musyrikin. Di sini terdapat pula ‘Masjid Tujuh’ yaitu tujuh masjid kecil yang pernah digunakan Rasulullah sholat bersama para sahabat. Dikisahkan oleh Syaikh Walid dalam tausiahnya di depan masjid Khondaq, bahwasanya perang ini merupakan salah satu peperangan yang paling banyak menguji kesabaran kaum muslimin saat itu. Dengan kondisi bebatuan yang keras, ditambah cuaca yang begitu panas dan kering, mereka harus segera menyelesaikan parit sepanjang itu dalam waktu yang cukup singkat. Sahabat yakin sob, prajurit sekelas kopassus pun belum tentu sanggup mengerjakan tugas semacam ini. Kenapa? Karena hanya orang-orang yang benar-benar tulus keimanannya saja yang mampu dan merekalah para sahabat yang mulia simbol kaum muslimin yang setia. Singkat cerita, Rasulullah yang turun langsung di tengah-tengah sahabat, memberi kabar gembira akan kemenangan demi kemenangan kaum muslimin di masa mendatang dan itu terbukti di zaman khalifah Umar bin Khotob yang bisa menaklukkan Persia. Untuk lebih detailnya silakan di lihat kembali di pelajaran Sirah Nabawiyah (drpada takut salah;))

Rangkaian rihlah ini diakhiri dengan mengunjungi masjid Quba’ yaitu masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita disunnahkan sholat dua rakaat setiap kali datang ke masjid ini. Masjid ini memiliki keutamaan bagi siapa saja yang sholat dua rakaat di masjid ini maka dia mendapatkan pahala umroh (Al Hadits). MaaSyaaAllah, sahabat langsung bergegas mengambil air wudhu dan sholat dua rakaat mudah-mudahan Allah catat sahabat termasuk yang mendapatkan pahala umroh, aamien.

Begitulah sekilas perjalanan napak tilas jejak peninggalan Rasulullah beserta para sahabatnya dari Jabal Uhud hingga masjid Quba’. Selain wisata alam, acara ini juga menyajikan wisata hati, agar hati ini selalu peka dalam menghalau noda-noda maksiat yang merusak kemurniannya yakni dengan selalu meneladani semangat perjuangan generasi pendahulu kita, sahabat Radhiallahu ‘anhum.

Di akhir catatan ini sahabat mengajak pembaca sekalian untuk bertafakkur sejenak, merenung kira-kira apa yang akan dihadapi setiap insan yang bernyawa (apa hayoo..)?. Benar, tiada lain dan bukan melainkan kematian. Alhamdulillah selepas sholat ashar tiga hari yang lalu, si empunya catatan bersama sang partner berziarah ke Al Baqi’, pekuburan kaum muslimin di sebelah timur masjid nabawy. Di sini pulalah Ibunda kaum Muslimin dan ribuan sahabat Nabi disemayamkan. Selaras dengan sabda Rasulullah bahwa "orang yang paling Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas".’(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).

Thoyyib, sampai di sini dulu sahabat madinah mengakhiri catatan perjalanan selama sebulan pertama di madinah. Mudah-mudahan secuil kenikmatan ini tidak membuat lupa diri membuat si empunya catatan bahkan justru semakin menambah rasa syukur dan ketaatannya kepada Allah dengan memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan belajar di negeri ini.
Yupz, jadikanlah semua aktivitas kita selalu terhiasi dalam nuansa ketaatan kita kepada Allah sebagaimana pesan Syaikh DR. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad “As Sa’aadah biyadillaah Laa Tunaalu illaa bithoo’atillah”, artinya kebahagiaan itu berada di tangan Allah, dan tidaklah ia diperoleh kecuali hanya dengan ketaatan kepada Allah”.

Tak lupa Sahabat  nitip salam plus memendam rindu kepada keluarga dan semua kawan sahabat semasa SD-SMP-SMA. Mudah-mudahan mereka dan semua pembaca note ini Allah berikan kemudahan bisa berkunjung ke Kota Nabi Al Madinah Al Munawwaroh, terlebih lagi bisa menuntut ilmu menyusul sahabat madinah , aamien.


Kota Nabi, 28 Rabiuts Tsani 1433 / 21 Maret 2012
09.00 (GMT+3) 13.00 WIB.

Minggu, 12 Februari 2012

Take Off to Madinah...


Alhamdulillah, satu pesan yang amat aku nanti akhirnya datang. Tiba-tiba diriku terbangun saat suasana masih sunyi, sepi. Mubasyaroh, kuraba-raba sekitar tubuhku dimana kah si ponsel Samsung star wifi berada. Sipp, dapet juga lah. Reflek kupencet tombol cancel dan menyalalah dia. Wah, faidza jam digital hpku baru berangka 03.17, berarti ini masih malem bener. Tapi yang bikin aku penasaran adalah tanda amplop yang berarti isyarat pesan masuk di tengah layar touchschreen hpku. Mataku yang masih keriyip-keriyip kuusap pelan-pelan sampai agak kerasa lebih nyaman buat melek. Dag dig dug dug dug der, faidza lagi ditengah amplop bertuliskan nama Badruddin, syuf!!! (beliau salah satu penanggungjawab rombongan keberangkatan ke madinah). Semakin berdegup kencanglah jantungku tahu begitu. Hmm, tapi kucoba bersikap tenang, biarlah ntar ga kecewa kalau isinya ternyata tidak seperti yang kusangka-sangka. Klik dah, ibu jariku menyentuh layar tengah pas di gambar amplop. MaaSyaaAllah, kali ini sangkaanku benar. Kedep kenyut hatiku mbaca isi sms,” Dari Abd. Baharmus= Ass. Wr. Wb. Siang ini semua harap check in ke airport pukul 13.30 di Terminal 2D. Take off pukul 17.35 menggunakan Emirates. Jangan terlambat. Kalau terlambat tiket hangus tidak bisa diganti. Harap datang tepat waktu.” Ya, kurang lebih begitu bunyi sms. Saking senengnya sampai kubaca berulang-ulang sms ini melebihi senengnya dapet sms dari calon istri (majaz ngapusi). Sampai kubenar-benar yakin dan faham maksud sms ini baru kubangunkan Syifa’ di sampingku yang masih berselancar di alam bawah sadarnya.  
Aku tak sabar mau ngasih kabar gembira buatnya agar pas dia bangun, kabar pertama yang dia denger adalah kabar gembira. Dan akulah orangnya si pembawa kabar gembira buatnya. Tapi kelihatannya Syifa’ sempat kurang yakin karena dia sendiri belom dapet kiriman sms yang sama. Btw, tetap tenang! sambil serius baca smsku. Finally, beberapa saat kemudian datanglah yg dtunggu-tunggu. Maknyuzzz, Yess, puas, plong, yakinlah, mantafff, syukur Alhamdulillaah Ya Rabb. Cussssh, lenyaplah rasa kantuk, tak mau lagi kami tidur. Pokoknya segera mungkin semuanya sudah beres plus rapi sebelum yang lainnya pada bangun. Syifa’ bilang biar aku mandi duluan coz dia masih loading, agak lola bro bangun tidur. Oke, gantian dia mandi aku cek barang bawaanku agar ga da yg ketinggalan di kos kakak senior nie. Alhamdulillah masih sempat sholat lail ^.^
Ba’da subuh barulah aku kasih tahu kabar gembira ini ke ahlu kos, mas iqbal dan mas nurul. Alhamdulillah semua senang mendengarnya. Sebelum berangkat kami sempat sarapan bersama. Ada satu pesan dari mas iqbal agar kami kelak jangan pulang sebelum dapat geler De eR. Allahummastajib da’watahu. Semoga doa beliau dikabulkan dan kami dimudahkan Allah dalam tholabul ilmi di madinah, amien.  
Menuju terminal pasar minggu. Dari sana kami naik bus Damri tujuan airport. Dengan ongkos 20ribu kami nyaman berteduh di dalamnya menikmati sejuknya Air Conditioner. Sambil menata hati yang lage sumringah neh, ku bagi-bagilah rasa senengku ke kawan-kawan yang di Jakarta, kali aja mereka lagi longgar bisa nemenin kami ke airport. Alhamdulillah semua ikut senang, walau akhirnya hanya empat sahabatku yang menyanggupi, tapi aku sudah sangat bersyukur karena maklum saat itu ngepasin weekend so pasti mereka sudah punya acara masing-masing. Never mind guys n_n
Sebelum dzuhur kami sudah berkumpul di Masjid Nurul Barkah kawasan bandara, lokasi ketemuan. Bersama Pak Yayan dan Adi yang datang duluan naik motor dari BSD dan disusul Barok dan Kang Dul (panggilan akrabku pada Abdurrohman) naik bus Damri sama sepertiku…
Bersambung…


Kamis, 26 Januari 2012

Indonesia Berkabung

Apa yang pertama kali terlintas di benak kita ketika disebut lata Indonesia? Well, akan banyak sekali bermunculan sebutan maupun julukan bagi negeri kepulauan terbesar di dunia ini. Negara agraris, Negara maritime, gemah ripah loh jinawi, lumbung padi, zamrud khatulkistiwa, negeri muslim terbesar, negeri penghafal qur’an, penduduknya ramah tamah, ataukah negerio sejuta hantu, lumbung koruptor, sarang ‘ekstrimis’, eksportir pembantu, negeri gempa tsunami, lumpur lapindo, gunung merapi, dll. Benarkah julukan-julukan di atas, atau manakah di antara istilah-istilah di atas yang paling cocok menggambarkan negeri ini?

“ Indonesia yang dulu dibangga-banggakan serta dielu-elukan oleh dunia tapi kini ? Ada apa dengan negeri ini?”

Tempo Doeloe vs Era Baru
                Negara Agraris. Begitulah julukan bagi bangsa Indonesia yang sejak dulu telah dikenal oleh dunia. Negeri yang gemah ripah loh jinawi. Di sana sini hasil bumi melimpah ruah dan segala kebutuhan manusia tersedia di negeri ini sehingga membuat iri bangsa lain hingga menyebabkan mereka saling berebut dapat menguasai negeri zamrud khatulistiwa ini. Sebagai Negara produsen padi terbesar dengan segala hasil bumi yang beraneka ragam sudah pasti menjanjikan kesejahteraan yang didambakan setiap rakyatnya. Betul, tapi itu dulu. Coba kita lihat fakta sekarang. Tidak sedikit rakyat yang mati kelaparan karena Negara lumbung padi ini tak sanggup menyuplai makanan pokok bagi kebutuhan sehari-hari rakyatnya sendiri. Akhirnya mau tidak mau terpaksa menelan ludah sendiri dengan mengimpor beras dari luar negeri. Bukan tanpa alasan, tidak lain salah satu penyebabnya karena semakin menyusutnya lahan pertanian yang telah disulap menjadi kawasan industri. Padahal bisa dipastikan hanya perorangan saja yang dapat menikmati hasilnya sementara di belakang sana rakyat jelata dipaksa rela menghisap jari sendiri demi menjaga eksistensi. Fakta yang lain bisa kita lihat di bidang peternakan. Tidak hanya maju di bidang pertanian saja, ternyata negri ini juga termasuk negara penghasil sapi dalam jumlah tinggi. Sekali lagi, itu dulu bro. Lain halnya saat ini, sekedar memenuhi pasokan daging dan susu bagi rakyatnya saja, lagi-lagi pemerintah harus mengimpor dari luar negeri, itupun dalam jumlah yang sangat besar. Tanpa disadari kebijakan yang semula hendak mensejahterakan rakyatnya justru kelak berbalik mencekik negeri sendiri karena fakta semakin besarnya nominal ‘bantuan’ (baca: hutang) negara hasil kebijakan tersebut. Walhasil  kebijakan ini membuat slogan sendiri yang mirip dengan slogan Pegadaian yaitu “Mengatasi Masalah Tambah Masalah”.

Ketika ‘Fulus’Jadi Tujuan
               
Sejauh mana keberhasilan suatu bangsa mewujudkan misinya bisa dilihat dari hakikat visi mereka sendiri. Keberhasilan dan kegagalan suatu pasukan perang tidak lepas dari tujuan dan pasukan itu sendiri. Karena tujuan itulah yang mendasari dibentuknya suatu pasukan. Di kala tujuan yang di dalamnya mencakup visi dan misi suatu gerakan sudah dilandasi dengan maksud dan cita-cita mulia yang jelas dan terorganisir maka sang prajuritlah (baca: pelaksana) yang menjadi penentu sukses tidaknya pasukan tersebut. Begitu pula pada komunitas besar suatu Negara. Pada lingkup yang lebih besar seperti ini maka lebih besar pula tanggungjawab yang diemban para pelaksananya. Oleh karena itu dibutuhkan dasar negara yang benar sebagai asas dalam perjuangan. Ingat! Hanya dasar negara yang selaras dengan Sang Pencipta yang dapat membawa suatu Negara menuju perbaikan, hal yang hingga kini belum terwujud di tanah air kita. Kemudian setelah itu barulah pelaksananya sebagai final targetman yang hendak membawa ke mana arah yang harus dituju. Sudah puluhan tahun lamanya negeri ini telah dipimpin para ‘pahlawan’ pejuang kasur empuk istana Negara. Akan tetapi tak kunjung problematika laten bangsa ini teratasi. Justru semakin merebaknya krisis kepercayaan di seluruh lapisan masyarakat. Dari kepala Negara yang dictator dan buas hingga yang lembek dan mudah gegabah semuanya tidak dapat dipercaya membawa perubahan yang berarti bagi bangsa ini. Bahkan hanya menambah panjang daftar pemimpin gagal negeri ini. Padahal seyogyanya sebagai pemimpin dapat menjadi teladan bagi rakyatnya. Namun sayang seribu sayang, mayoritas mereka kalau sudah merasakan nyenyaknya tidur manis di kursi pemerintahan, semakin leluasa memberi teladan, yaitu teladan yang pantas untuk tidak ditiru. Bukan rahasia lagi, para ‘pahlawan’ tersebut telah ‘berjasa ‘  dalam membuat rantai korupsi terselubung bersama KPK (Kafilah Para Koruptor). Hal ini membawa dampak luar bias bagi orang-orang di bawahnya. Sehingga tingkah laku tersebut mereka turun temurun dianggap lumrah terjadi pada lembaga-lembaga yang dikelola oleh Negara. Demikianlah ketika uang menjadi orientasi utama hilanglah sebuah tujuan mulia. Demi uang yang haram dianggap halal. Demi uang nyawa pun tak ada harganya. Demi uang, jabatan diselewengkan. Demi uang, segala cara ditempuh demi menggapainya, bahkan kalau perlu agama pun digadaikan. Wal’iyadzubillah.

Anak Bangsa Yang Terabaikan
                Dalam hidup ini selalu ada persaingan yang tak bisa dihindari. Dalam segala hal manusia dituntut harus menjadi yang terbaik. Semua orang mendambakan hidup serba kecukupan, sejahtera, tanpa seorangpun boleh mengganggunya. Maka dengan segala karunia yang sempurna dari Sang Pencipta, muncullah di antara mereka bermacam-macam tingkat kemampuan sesuai usaha yang mereka lakukan. Ada yang Allah takdirkan menjadi seorang ilmuwan. Ada pula yang sudah bersyukur bisa menjadi tukang bangunan. Semuanya sudah Allah tentukan sebelum kita terlahir di dunia. Satu hal yang seharusnya disyukuri oleh negeri ini tapi tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah adalah fakta banyaknya anak bangsa ini yang berkarya besar tapi karyanya bukan buat negeri sendiri justru bangsa lainlah yang menikmati hasilnya. Kelihatannya aneh, tetapi setelah diselidiki ternyata fakta tersebut wajar-wajar saja. Sudah selayaknya orang-orang yang punya potensi hebat seperti ini diperlakukan semestinya, dicukupi kebutuhannya, bahkan kalau perlu dijamin kesejahteraan keluarganya, bukan malah disingkirkan karena dianggap sebagai pesaing yang dapat mengancam posisi dan jabatannya. Pantas saja apabila mereka lebih memilih berkarya di luar negeri ketimabng di negerinya sendiri. Lihat saja bagaimana mereke di negeri orang diperlakukan istimewa, ada yang menjadi warga Negara kehormatan, disegani bahkan dieprlakukan bak pahlawan. Lebih dari itu mereka semakin nyaman karena di sana punya semboyan ‘amal qolil fulus katsir’ (kerjaan dikit upah banyak). Lain hanya di Indonesia ‘amal katsir fulus qolil’ (kerjaan banyak upah sedikit) maka loyalitas pun sedikit. Sayang, betapa negeri ini belum bisa menghargai mahalnya suatu ilmu. Tidak ada apa-apanya ilmu bila dibandingkan dengan harta. Dengan ilmu harta bisa dicari. Sementara dengan harta, belum tentu ilmu dapat dimiliki. Dengan ilmu, seseorang dapat mengubah suatu negeri dan karena ilmu pula suatu bangsa disegani. Maka alangkah lucunya negeri ini dimana orang bodoh berdasi dipelihara, sedang ilmuan berjasa ditelantarkan.

Ulama dan Pemuda Cendekia, Poros Perubahan Bangsa
                Walau bagaimanapun keadaan negeri ini kita harus tetap bersyukur dilahirkan menjadi bagian dari negeri penghasil gas cair (LNG) terbesar di dunia ini. Ini merupakan salah satu karunia yang Allah lebihkan bagi negeri ini dari negeri-negeri yang lain. Sekarang ini tinggal bagaimana cara kita mensyukuri. Tidak bisa dipungkiri bahwa dibalik carut marut dan semrawutnya negeri ini  tetap saja menyimpan suatu hal yang menggembirakan. Selain kebanggaan atas melimpahnya kekayaan alam yang luas, ternyata ada sesuatu yang lebih pantas membuat kita bersyukur yakni fakta bahwa akhi-akhir ini mulai bermunculan generasi cendekia muslim dan meningkatnya semarak gelora menghafal Al Qur’an oleh para pemuda muslim di tengah balada keterputrukan bangsa ini yang setidaknya dapat mengobati lara yang tak kunjung sirna. Sungguh beruntung sekali jikalau kita termasuk di dalamnya, berarti ada kesempatan mulia bagi kita untuk ‘unjuk gigi’ dalam upaya perbaikan negeri. Ingat! Masih banyak PR bagi negeri eksportir kayu lapis terbesar dunia ini yang harus kita selesaikan. Setidaknya akar pemecahan problematika negeri ini mengerucut kepada dua hal, yaitu character building (pembentukan karakter) dan good defending (pertahanan yang kokoh). Kenapa harus pembentukan karakter? Jawabannya karena karakter bangsa ini sudah memudar. Masih ingatkah anda bahwa bangsa Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa ketimuran yang agamis dan religi? Bukankah dahulu bangsa ini dikenal karena menjunjung tinggi budi pekerti? Baiklah mari kita lihat wajah negeri kita hari ini. Dimana-mana terjadi keributan, pertumpahan darah, penipuan, anarkisme, premanisme, dan semisalnya yang ternyata ini akibat dari pengaruh hilangnya panutan di tengah-tengah umat. Padahal umat ini membutuhkan sosok figur panutan yang diikuti. Jika sang panutan bilang A maka umat pun mengikutinya bilang A. Maka sudah saatnya bangsa ini membuka kembali lembaran sejarah masa lalu agar bisa membangkitkan semangat kesatria dan mengembalikan jatidiri. Sejarah yang penuh dengan perjuangan, kesetiaan, pengorbanan hingga akhirnya berhasil mengusir penjajah dari negeri ini dan dunia pun mengakui. Tahukah anda, siapa gerangan yang mengobarkan semangat membara pada diri pemuda saat itu? Siapa pula yang jasanya selalu dikenang dalam sanubari putra-putri bangsa ketika berhasil menyatukan ribuan bahkan jutaan umat dalam satu barisan di bawah bendera tauhid “Laa ilaaha Illallaah” dan pekikan takbir “Allahu Akbar, merdeka !” yang dengannya setiap yang muda maupun yang tua rela menggadaikan jiwa raganya di jalan Allah, melepas atribut kedaerahan, merebut kemerdekaan, dan bagi mereka lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup di bawah kaki tangan penjajah, siapakah mereka?? Tidak lain mereka adalah para ulama, merekalah public figure yang hendak kita munculkan. Sebagai public figure, seorang ulama menjadi sentral panutan di masyarakat. Melalui merekalah jatidiri dan karakter bangsa kembali terbentuk. Umat terbina dalam bimbingan yang benar, petuah para ulama menjadi pelengkap dalam beramal dan Islam sebagai tolak ukur kebenaran. Oleh karena itu, mutlak adanya penanaman sejak dini kepada setiap generasi penerus akan pentingnya mendalami ilmu agama yang benar, kesadaran akan besarnya tanggungjawab, saling gotong-royong, serta dibekali dengan akhlak mulia akan dapat membentuk karakter bangsa yang kuat, mandiri, dan disegani, panutan dan dipercaya, In SyaaAllah. Ketika karakter bangsa sudah mulai mengakar kuat di masyarakat, maka hal ini perlu diimbangi dengan pertahanan yang kokoh. Petambahan yang mampu membentengi diri dari gelombang arus negatif yang selalu mengintai. Dalam arena sepak bola dikenal istilah “ Pertahanan terbaik adalah menyerang”.  Dalam kancah medan dakwah pun tidak jauh berbeda. Lantas, langkah apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkannya? Nah, tibalah saatnya bagi para penerus generasi bangsa ambil bagian dalam estafet ini. Seiring berkembangnya zaman, tantangan dakwah pun juga semakin besar. Barat dengan kedigdayaannya menawarkan kepada dunia Islam apa yang mereka sebut dengan kebebasan. Maka kitapun harus responsif dengan menyerang balik mereka secara frontal, menyeluruh, serta selalu siap siaga meladeni pertarungan ini.
“…Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman…”
                Jikalau mereka bangga dengan pergaulan bebas, perkawinan sejenis, miras, narkoba, dan segala bentuk kebebasan (baca: kemunduran akhlak), maka kita hadapi mereka dengan apa yang menjadi kebanggaan kita. Kita bangga memiliki Al Qur’an, bahkan sebagai penghafal Al Qur’an yang siap menjadi orang-orang yang menjaga keasliannya hingga hari kiamat. Al Qur’an di dadaku, inilah semboyanku. Pedoman hidup manusia yang selalu terjaga kemurniannya hingga akhir zaman, yang dengannya Allah angkat suatu kaum dan Allah hinakan selainnya. Kita tunjukkan bahwa kita umat Islam menjungjung tinggi akhlak mulia, menjaga kehormatan setiap individu, tidak membeda-bedakan kasta dan keturunan. Kita tunjukkan bahwa kita memiliki karakter yang tangguh, iman kita tidak akan runtuh walau nyawa sebagai taruhannya. Kita sampaikan pada dunia bahwa kita bangga dengan budaya kita, kita bangga dengan pedoman kita, wanita kita nyaman menutup auratnya, yang pria pun nyaman memanjangkan jenggotnya, pantang bagi kita berkhalwat dengan selain mahram, pantang bagi kita makan dan minum barang yang haram. Isyhaduu biannaa muslimuun. Kita mesti bangga dengan semua perbedaan dengan mereka. Kita berani bertaruh siapa di antara kita yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang. Ingat! Pertarungan antara haq dan bathil akan terus berlangsung hingga akhir zaman, dimana yang haq akan selalu menang dan yang batil pasti lenyap,
 “…Dan katakanlah (wahai Muhammad),” Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sunguh yang batil itu pasti lenyap…”
                Begitulah cara yang kita tempuh, adun kekuatan dalam arena perang pemikiran. Dengan demikian sedikit demi sedikit stigma negatif yang disematkan pada negeri pemilik terumbu karang terkaya ini In SyaaAllah berangsur hilang dan pertolongan Allah pasti segera datang. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti akan kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” Terlihat jelas sekali pada proses panjang ini bahwa poros perubahan bangsa berada di pundak para ulama dengan kedekatan mereka dengan ridho Sang Pencipta Allah Ta’ala dan para pemuda muslim cendekia dengan ide dan darah segarnya bersatu dalam semangat juang lillah Ta’ala. Lalu, adakah kita di antara mereka? Wallahu a’lam Bis Showab.

Rabu, 25 Januari 2012

Bola, Maafkan Aku

bola,
konon kau membawa pesan dan bahasa sejagat
tapi yang kutahu, kau pun membawa mudarat
karena kau tidak berdaya kala diperalat
untuk kepentingan politik sesaat

bahkan kiai-kiai pun ikut berhelat
dengan zikir, wirid dan baca sholawat
agar gawang milikmu terjaga kuat
jangan sampai terjadi kiamat

belum yakin dengan doa dipanjat
jin dan gondoruwo pun ikut diembat
bahkan istri-istri pun rela dipegat
jika pingin ketemu para pemainmu dihambat

bola,
maafkan, aku belum mengenalmu lebih dekat
sehingga kesedihanku atas kekalahanmu tidak terlalu kuat
melebihi kesedihanku atas kelemahanmu menolak mudarat
yang cerdas kehilangan akal sehat
yang berpangkat serasa hilang hormat
yang digdaya pun tak lagi kuat
sportivitasmu hilang melesat

by: Al Ustadz Hamim Thohari