Labels

Tampilkan postingan dengan label madinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madinah. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2012

Aktifkan Hati Nurani, Karena Iman Ingin Dimengerti

Inspirasi ini muncul saat saya berjalan pulang dari harom menuju asrama maba UIM di funduq jam’iyyatil birr. Hanya butuh waktu kurang lebih 25 menit di bawah ‘hangatnya’ terik matahari di musim shoif ini untuk menempuh jarak sepanjang  1,5  km sudah lumayan untuk membakar kalori tubuh saya (baca: diet). Jarak yang cukup ‘ideal’ buat pengganti lari siang semasa di kampung dua menara dahulu. Inilah Syari’ Abi Dzar Al Ghifari satu-satunya jalan lurus yang menghubungkan jam’iyyatil birr dengan masjid nabawy. Biasanya setiap hari jum’at maupun sore hari menjelang magrib, di ruas kanan kiri jalan terlihat gerombolan mahasiswa UIM berjalan menuju masjid nabawy dengan masing-masing meminggul satu tas atau kresek berisikan kitab. Selain itu ada pula rombongan jama’ah umroh yang kebanyakan mereka berasal dari  India dan Pakistan yang tinggal tidak jauh dari asrama kami.

Sehabis menunaikan sholat jum’at di tengah memanasnya suhu udara di musim panas saya bergegas pulang menuju asrama karena masih banyak tugas salah satunya piket kamar yang harus segera saya bereskan setelah semalam saya tunda karena tak mau melewatkan moment mengantar sohibi fillah akhu hamzah bersama kafilah mahasiswa UIM menuju bandara madinah untuk rihlah da’awiyah ke bumi pertiwi Indonesia. Belum lagi rutinitas sehari-hari yang kudu dijaga semangatnya semisal muroja’ah qur’an dan muthola’ah kitab. Di tengah perjalanan menuju asrama inilah tepatnya di trotoar tengah antara dua jalan sekitar mahatthoh Saptco saya dapatkan satu pelajaran berharga. Saat itu pandangan saya masih terfokus pada satu titik di atas sebuah funduq bertuliskan Jam’iyyatul Birr. “Huff…sendirian, masih jauh, panas lagi, kapan sampenya ini…” gerutu saya sesekali sambil menahan panasnya cuaca. Di tambah lagi diri arah kanan dan kiri saya banyak sawwaq naql/ujroh (sopir angkot/taxi) mulai mendekat sambil menawarkan jasa ”makkah..ha..makkah? yalla yalla juddah..juddah..?, wahid nafar yanbo’? yanboo’..? juddah..makkah..yanbo’ bla..bla bla...”  Jiaaaahh...ini orang apa ga liat yah orang udah geleng-geleng kepala, udah bilang Laaa…masih pula bertanya-tanya. Jan…capek, iya, haus, iya, laper, lumayan, panas, buanget jal, jarak, jauh lagi…tambah pula berisik sawwaq yg lagi cari penumpang, hmm...bener-bener mulai melunturkan semangat jalanku menuju asrama. Hampir-hampir saya mulai tergoda melirik kanan kiri, karna di sana ada baqqolah (mini market) dan ruzz bukhori (resto) yang sepintas pikir saya akan mengobati dehaga dan dangdutan (baca: keroncongan) perut saya…^.^

Segeralah saya pasang tameng ampuh penolak syaiton seraya berucap “Astaghfirullaah…sabar ndan sabarr…bentar lagi kog”. Sambil beristighfar saya mulai menenangkan pikiran wa bittaufiq minallaah tiba-tiba saya ingat lafazh ash shiroth al mustaqim di surat al Al Fatihah. Secara makna harfiah lafazh ini artinya jalan yang lurus. Yap, persis seperti jalan yang sedang saya lalui ini lurus dari masjid nabawy menuju asrama. Adapun secara tafsiriyah maknanya adalah Islam itu sendiri. Alhamdulillah, minimal 5x sehari kita melafadzkan doa Ihdinash shirothol mustaqim tiap sholat fardhu agar Allah menunjukkan kita Islam yang lurus.

Saya mulai berpikir bahwa godaan ini salah satu trik syaiton hendak mengelabuhi saya supaya menunda-nunda waktu hingga tugas saya berantakan. Sejenak, saya bertanya pada hati nurani alias menimbang-nimbang baik buruknya sambil terus mengayuh langkah pelan-pelan, “kalau saya mampir baqqolah, kalo saya rehat sebentar di ruzz bukhori, kalo saya beli es krim dulu, kalo saya bla bla bla truss…kapan saya sampe asrama, kapan saya beres2 kamar, kapan saya baca kitab, kapan saya rehat, kapan saya…?”. Jreng…!! Supaya lebih rilex saya hibur diri dengan sabda Rasulullah Sahallallaahu ‘alaihi wa sallam “Surga itu dihiasi dengan perkara-perkara yang dibenci sedangkan neraka dihiasi dengan hal-hal yang disukai.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beli es krim, enak, makan fakhm (ayam panggang), nikmat, jalan terus, puanas, capek. Wah cocok banget situasi saya dengan hadits di atas. Kalau saya turuti, waktu saya habis, saya ga sampai-sampai, tugas keteteran, muraja’ah ambyar. Saya pun berusaha mengendalikan diri agar tidak terpengaruh oleh bayangan dinginnya es krim di baqqolah ataupun lezatnya fakhm di resto bukhori. Hanya dengan mengingat-ingat tujuan utama saya adalah satu yaitu balik ke asrama untuk menyelesaikan semua tugas, Titik! Singkat cerita saya berhasil menahan diri dari rayuan baqqolah dan resto bukhori. Di sini lah terlihat peran hati nurani saya. Saya pun lega bisa segera sampai asrama tanpa mengeluarkan real sepeser pun.

SobatQuu…

Dalam sebuah atsar Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Setelahnya beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian beliau bersabda: “Ini adalah jalan-jalan. Tidak ada satu jalan pun dari jalan-jalan ini melainkan di atasnya ada setan yang mengajak kepadanya.” Beliau lalu membaca ayat: “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan ini dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (HR Ahmad, lihat dalam al-Musnad (VII/436) no 4437).

Kala seorang muslim sudah berada pada jalan yang lurus, saat itu pula syaiton dengan segala kemampuan membukakan jalan-jalan baru yang seakan lebih indah, lebih menarik, ringan dan lebih mudah untuk dilalui. Terkadang kita terbiasa melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan kehendak nurani kita. Bahkan hanya berangkat dari sebuah penasaran atau sekedar coba-coba alias Iseng dan berujung pada penyasalan berkepanjangan.

Ilustrasi sederhana…

Sebut saja mas akhi. Awalnya dia pergi ke suatu swalayan induk (mall) hendak beli jaket baru yang lagi ngetrend saat itu. Setelah ia dapatkan jaket yang dicari, dia penasaran pas ngeliat banyak anak muda seusianya berbondong-bondong menuju lantai atas, terdengar salah satu dari mereka bilang “eh, ayok buruan giih, keburu habis tiketnya…”. Mas akhi pun penasaran dibuatnya. Berdalih hendak sidak lapangan akhirnya ia putuskan mengikuti arah gerak anak2 muda tadi. Tett-tooootttt,…sudah ketebak, apa hayoo?? Betttul…, bukan lain adalah XXI (twenty one) satu mustholah yang akhi-akhir ini masyhur di kalangan pesantren. Rasa penasarannya alias iseng berhasil mengantarkannya menonton film ‘Suster Ngepel’…kekekek:)

Pada taraf yang mengakhawatirkan, ia mulai menilai ‘pemandangan indah’ di sekitarnya “kayaknya asyik juga deh. Selama gue nyantri gue kan lom pernah pacaran. Iseng ah marroh-marroh, gue ingin buktiin kalo gue ga bakal lama-lama ngrasain yang beginian…” Allahul Musta’aan. Setelah ia coba, fakta berkata lain. Gara-gara iseng telah membuatnya lupa diri, berubah 180 derajat. Bermula dari iseng, dia lupa tujuan semula. Di lain kesempatan dia sudah berani mempraktekkan apa yang liat di XXI. Bahkan sekarang ia lebih suka melankolis, melas, stagnan, kolap dan pesimis alias mudah galau. Imbasnya, fokus buyar, sekolah bubar, tujuan ga karuan, masa depan suram. Nas-alullaahassalaamah

Bener kata banghaji  “Noh, kan ude gue bilangin, elu pade jangan suke ‘iseng’…!! Apelagi ampe maksiaat. Emang lo kire setan diem? Nyaho’ baru tau rasa luh…” (wuaa kasaar ya…, apwan plen bahasa amiyah guwa hehe…^,^)

Baiklah, Sobatku sekalian tidak jarang kita tergelincir dari tujuan utama lantaran hal sepele hanya karena ‘iseng’. Pesanku, hindari kebiasaan iseng lewat aktivitas rutinmu. Nyalakan semangat istiqomahmu dan jangan lupa pesan bapak-ibu. Semoga bermanfaat...


INGAT- ingat ^!^

^^...karena iman selalu ingin dimengerti...^^






Minggu, 13 Mei 2012

Sederhana dan Hangat, Kegiatan Haflah Takharruj Mahasiswa Indonesia di Madinah

Tidak kurang dari 150 mahasiswa Indonesia S1, S2 dan S3 di Universitas Islam Madinah (UIM) berkumpul untuk mengikuti acara Haflah Takharruj (syukuran wisuda) tahun 2012 di Istirohah (tempat peristirahatan) Al-Nuris di pinggir kota Madinah, Sabtu malam (12/5/2012).

Kegiatan yang berlangsung secara sederhana di ruang terbuka (outdoor) tersebut dibuka oleh sambutan-sambutan oleh ketua panitia sekaligus Ketua Kemanduban Mahasiswa Indonesia UIM Sdr. Hudzaifah, perwakilan mahasiswa Dirasat Ulya (pascasarjana) Sdr. Anas Burhanuddin, Konsul Muda Pensosbud KJRI Jeddah Nur Ibrahim dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh Dr. M Lutfi Zuhdi.



Ketua panitia menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia yang akan diwisuda dalam waktu dekat ini berjumlah 40-an orang dimana 15 orang diantaranya dinyatakan telah lulus ujian tahriri (tulis) untuk melanjutkan kuliah S2 di UIM pada tahun ini.

Di sela-sela sambutannya, Sdr. Anas menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para pejabat KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh yang selama ini telah aktif menghadiri dan mendukung berbagai kegiatan kemahasiswaan yang diadakan di Madinah.

Ia juga sempat berbagi pengalamannya ketika bertemu dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara-negara lain. Mereka nampak terkejut dan tidak mengira bahwasanya perhatian Perwakilan RI di Arab Saudi begitu besar terhadap mahasiswa Indonesia di sana.

Pada sambutan lainnya, Konsul Muda Pensosbud KJRI mengucapkan selamat kepada para mahasiswa S1 yang akan diwisuda dan kembali ke tanah air.

“Selamat mengamalkan ilmu yang kalian dapatkan dan selamat mengaktualisasikan diri di lingkungan masing-masing”, ujarnya seraya menjelaskan banyaknya peran positif maupun profesi yang dapat diambil dan digeluti oleh para alumni UIM sekembalinya ke tanah air.



Sedangkan Atdikbud KBRI Riyadh dalam sambutannya mengembuskan optimisme kepada para hadirin dengan mengemukakan beberapa fakta yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang perekonomiannya terus tumbuh seiring meningkatnya jumlah kelas menengah. “Indonesia juga termasuk negara dengan rasio hutang terkecil di dunia, yaitu sebesar 24 persen”, imbuhnya.

Tidak hanya itu, Atdikbud juga mendorong para alumni UIM untuk memanfaatkan peluang usaha yang ada. “Meningkatnya jumlah jamaah umroh Indonesia ke Arab Saudi yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir merupakan hal yang positif sekaligus membuka peluang bagi adik-adik yang akan kembali ke Indonesia untuk menggeluti bisnis di bidang travel umroh”, ujarnya sambil berkelakar.

Acara yang berlangsung hangat tersebut juga diisi penyampaian pesan dan kesan dari dua orang perwakilan mahasiswa S1 yang akan diwisuda, yaitu Sdr. Rahman Hakim dan Sdr. Hasan.

“Salah satu peristiwa yang paling berkesan pada diri saya adalah ketika saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus UIM, saya langsung diajak oleh senior untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah di Masjid Nabawi dan ikut mengaji di halaqah bersama para masyaikh”, kata Hasan.

Selanjutnya acara turut dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan pembagian hadiah kepada para pemenang kompetisi sepakbola dan lomba lari estafet yang diselenggarakan oleh panitia.

Tepat pukul 23.00 waktu setempat, acara ditutup dengan pembagian tiket kepulangan ke tanah air bagi seluruh mahasiswa UIM, baik yang telah menyelesaikan studi maupun yang akan mengambil liburan tahunan pascaujian.—PFP II (KJRI Riyadh)

Rabu, 25 April 2012

Kontingen Mahasiswa Indonesia Raih Predikat Terbaik II pada Ajang Festival Budaya antar Bangsa di Madinah


Tampil dengan kostum dan masakan khas daerah yang beraneka rasa, mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah (UIM) yang tergabung dalam Kemanduban Mahasiswa Indonesia berhasil meraih predikat kontingen terbaik kedua mengungguli para pesaingnya pada ajang Festival Budaya antar Bangsa di Madinah pada Senin malam (23/4).

Festival Budaya yang dihelat untuk kali kedua oleh UIM ini berhadiah uang tunai, tiket liburan gratis, dan sejumlah souvenir menarik lainnya serta diikuti oleh para mahasiswa UIM yang mewakili 52 negara.

Pada festival tersebut, kontingen Tajikistan berhasil menjadi kontingen terbaik I, disusul Indonesia di tempat kedua, kemudian diikuti secara berurutan oleh Afganistan, Thailand, Palestina, Nigeria, Togo, China, Suriah, dan Malaysia.



Acara yang berlangsung di halaman terbuka Universitas Islam Madinah (UIM) ini dibuka secara resmi oleh Rektor UIM, Prof. Dr. Mohammad Ali Al-Oqla, disaksikan oleh sivitas akademika dan para tamu undangan.

Penilaian dewan juri difokuskan pada keunikan, keindahan, dan kepaduan dekorasi dengan tema yang diusung, aneka makanan dan minuman khas daerah negara peserta, serta keterampilan peserta dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan dewan juri.

Kontingen Indonesia yang tampil atraktif dengan berbusana adat Jawa yang didominasi warna merah menyala dengan segala pernak-perniknya lengkap dengan blankon, berpakaian adat sunda, serta mengenakan batik dengan penutup kepala terbuat dari serabut pohon bertuliskan “Provinsi Gorontalo” mampu memikat para pengunjung yang berebut mengambil gambar.

Sejumlah poster yang memperlihatkan keanekaragaman keindahan dan kekayaan alam Indonesia turut ditampilkan pada dinding pembatas stan pameran lengkap dengan bendera dan peta Indonesia yang dipadu dengan pertunjukan cuplikan film destinasi wisata di sejumlah daerah Indonesia dan slide-slide pilihan nan memukau.



Tak kalah menarik adalah sajian masakan khas dan buah-buahan Indonesia yang menggoda selera pengunjung. Nasi tumpeng, rendang, sate, gurame saos, otak-otak bandeng, semur telor, gado-gado, udang saus lengkap dengan sajian minuman es buah, bubur kacang ijo, pisang cokelat dan hidangan pencuci mulut berupa rambutan, kelengkeng dan lain-lain berjejer rapih di atas meja.

“Ini semua kami yang masak, Pak,” ujar salah seorang peserta kepada Konsul Pensosbud KJRI Jeddah Cahyono Rustam, yang menyempatkan hadir pada festival untuk mendukung langsung kontingen Indonesia.

“Ada rambutan?” Tanya Rektor UIM saat merapat ke stan kontingen Indonesia beserta sejumlah tamu penting lainnya. Dengan sigap seorang peserta mengupaskan sebiji rambutan dan menyuguhkannya. Penasaran, ia pun mencoba sajian lainnya. Selanjutnya tanpa dikomando para pengunjung lain pun ikut menyerbu stan Indonesia dan berkerumun di sekitarnya.



Keberhasilan menyabet peringkat kedua pada festival kali ini mampu mengobati kekecewaan kontingen Indonesia Indonesia yang gagal masuk 10 besar kontingen terbaik pada festival budaya tahun sebelumnya.

“Keikutsertaan mahasiswa kita dalam ajang festival budaya ini merupakan salah satu sarana mempromosikan kekayaan budaya dan citra positif Indonesia di luar negeri,” ujar Cahyono Rustam. (KJRI Riyadh)



Rabu, 21 Maret 2012

" Sebulan Dalam Dekapan "


Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setelah semaleman transit di Dubai International, Alhamdulillah pukul 07.30 pagi (GMT+3) tanggal 13 Feb 2011 dengan izin Allah, si empunya catatan alias sahabat madinah tiba di Saudi Arabia dengan selamat. Pertama kali menginjakkan kakinya di Negeri Mubarokah ini tepatnya di distrik Yanbo’, sebelah barat kota madinah. Subhanallah, berasa masih di alam mimpi tapi lebih dari sekedar ‘sang pemimpi’.
Dari Airport menuju kampus mega besar UIM (Universitas Islam Madinah). Sampai di sana langsung disambut dengan ramah dan hangat oleh kakak-kakak senior Mahasiswa UIM (Universitas Islam Madinah) dengan pakaian khas islami gamis dan jubah.


Panitia penyambutan mempersilakan kami masuk ke gedung fakultas Dakwah wa Ushuluddin (paling joss bangunannya), tempat berlangsungnya acara Penyambutan Mahasiswa Baru UIM 2012. Acara inti dimulai dengan sambutan ketua mandub Mahasiswa Indonesia UIM, dilanjutkan dengan pengarahan Mahasiswa Baru. Hingga tibalah acara yang sangat ditunggu-tunggu sejak kedatangan di Airport sampai di kampus, bukan lain adalah ‘acara untu’. Dengan menu fakhm (ingkung ayam) dan ruz Bukhori (nasi bukhori), Alhamdulillah sangat menggugah ‘selera santri’, dengan lahab kami santap hingga tak rela kami sisakan nasi walau hanya sebutir (maklum, wueenak pooll). Ba’da Maghrib dilanjutkan dengan pembagian kamar dan sulfah (uang pinjaman sebelum menerima mukafaah/uang saku).

Sehabis sholat Isya’ kami diantar menuju asrama Maba yang lumayan jauh dari kampus. Asrama ini khusus diperuntukkan bagi Maba yang terlambat datang, termasuk kafilah Indonesia. MaaSyaaAllah, walaupun agak jauh dari kampus, tapi tak mengurangi semangat kami tuk segera merebahkan badan, menikmati suasana kamar baru. Apalagi setelah kami tahu kalau asrama ini lebih dekat dengan harom (sebutan masjid Nabawy). Sueenengnya hati ini, ga kebayang sebelumnya kalau tiap hari bisa sholat di masjid ini, ya tinggal kali aja tiap sholatnya dengan pahala 1000 kali sholat di masjid manapun kecuali masjidil harom, Mekkah. Hehe…ayo sob, buruan ke sini..;). Udah gitu bisa menjadi tamu Rasulullah saja berasa istimewa bagi setiap muslim, apalagi kalau tiap hari bisa minum air zam-zam yang kata Rasulullah air barokah ini sesuai dengan kehendak si peminum, so dianjurkan tiap kali minum agar berdoa minta apa saja sama Allah, InSyaaAllah mustajab. Wiiih,…Amazing, Guys!  La Hawla wa la Quwwata Illa billah.

Kembali ke laptop!
Jiwa muda plus semangat yang membara bikin sahabat pengin cepet-cepet bisa ngrasain bangku kuliah. Belum lagi kalau inget kawan-kawan SD-SMP yang udah pada hampir selesei kuliah, malah ada yang udah nikah. Hmm, Qodarollah kami masih harus lebih bersabar lagi wat nunggu proses registrasi dan tes kesehatan yang lumayan memakan waktu, yah kurang lebih selama tiga mingguan (kalo kaya gini kapan nikahnya nie? Hehe..softoh jal, alias gojekan thog). Btw, ma fi isykal alias no problem coz masih banyak hal-hal yang bermanfaat untuk mengisi kekosongan.

Ngapain aja tuh?
Berkunjung ke Mujamma’ Malik Fahd (Percetakan Mushaf Al Qur’an).
Di sini sahabat madinah bersama kawan-kawan bisa melihat langsung proses percetakan mushaf dalam jumlah besar di Saudi Arabia yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai negera di seluruh dunia, termasuk pula Ibu pertiwi Indonesia. Enaknya lagi, semua pengunjung dipersilakan mengambil satu mushaf di antara mushaf-mushaf dengan berbagai ukuran ataupun mushaf yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sampai ada kawan yang berniat datang kemari seminggu sekali agar bisa mengoleksi mushaf terjemah manca Negara. MasyaaAllah Tabaarokallaah, Asyik bukan?

Apa lagi sih? 
Masih banyak sob, lebih seru lagi. Alhamdulillah, beberapa kemudahan sahabat rasakan di awal-awal tinggal di kampus baru. Walaupun belum bisa masuk kuliah, paling tidak bisa observasi lapangan lah, sambil jalan-jalan kota Madinah (gratis lagi, siapa yang ga maaau??). Di akhir pekan ketiga ini, sahabat dapat kesempatan ikut ‘mencari jejak’ alias napak tilas jejak Rasulullah dan para sahabat di kota Madinah. Alhamdulillah, cocok banget dengan jiwa sahabat yang emang pecinta alam banget (baca: suka jalan-jalan). Bertajuk acara santai akhir pekan, dengan menaiki bis kami mengunjungi situs-situs bersejarah di sekitar Madinah. Tujuan pertama adalah Jabal Uhud (Gunung Uhud).

Lagi-lagi sahabat hanya bisa berucap Subhanallah walhamdulillah “agar lisan ini selalu basah dengan dzikir kepada Allah”. Sungguh pengalaman baru yang mengesankan bisa melihat langsung saksi bisu peperangan dahsyat antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Gunung bersejarah ini memiliki panjang 6 km. Di tengah-tengah antara Jabal Uhud dan Jabal Rumah terdapat makam Syuhada’ Uhud (Para Sahabat yang mati syahid dalam perang uhud). Saking penginnya napak tilas, sahabat sempatin lepas sandal, biarlah paling tidak sudah pernah meninggalkan 'jejak kaki' sebagaimana para sahabat yang lebih dahulu meninggalkan jejaknya (walaupun berbeda jenis, zaman dan kondisi ^.^)

Rihlah berlanjut menuju Khondaq (Parit). Tempat berlangsungnya perang khondaq. Di mana Rasulullah dan para sahabatnya menggali Khondaq sedalam 6 meter sepanjang 2 km dalam waktu dua minggu sebagai setrategi perang guna menghalau serbuan kaum musyrikin. Di sini terdapat pula ‘Masjid Tujuh’ yaitu tujuh masjid kecil yang pernah digunakan Rasulullah sholat bersama para sahabat. Dikisahkan oleh Syaikh Walid dalam tausiahnya di depan masjid Khondaq, bahwasanya perang ini merupakan salah satu peperangan yang paling banyak menguji kesabaran kaum muslimin saat itu. Dengan kondisi bebatuan yang keras, ditambah cuaca yang begitu panas dan kering, mereka harus segera menyelesaikan parit sepanjang itu dalam waktu yang cukup singkat. Sahabat yakin sob, prajurit sekelas kopassus pun belum tentu sanggup mengerjakan tugas semacam ini. Kenapa? Karena hanya orang-orang yang benar-benar tulus keimanannya saja yang mampu dan merekalah para sahabat yang mulia simbol kaum muslimin yang setia. Singkat cerita, Rasulullah yang turun langsung di tengah-tengah sahabat, memberi kabar gembira akan kemenangan demi kemenangan kaum muslimin di masa mendatang dan itu terbukti di zaman khalifah Umar bin Khotob yang bisa menaklukkan Persia. Untuk lebih detailnya silakan di lihat kembali di pelajaran Sirah Nabawiyah (drpada takut salah;))

Rangkaian rihlah ini diakhiri dengan mengunjungi masjid Quba’ yaitu masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita disunnahkan sholat dua rakaat setiap kali datang ke masjid ini. Masjid ini memiliki keutamaan bagi siapa saja yang sholat dua rakaat di masjid ini maka dia mendapatkan pahala umroh (Al Hadits). MaaSyaaAllah, sahabat langsung bergegas mengambil air wudhu dan sholat dua rakaat mudah-mudahan Allah catat sahabat termasuk yang mendapatkan pahala umroh, aamien.

Begitulah sekilas perjalanan napak tilas jejak peninggalan Rasulullah beserta para sahabatnya dari Jabal Uhud hingga masjid Quba’. Selain wisata alam, acara ini juga menyajikan wisata hati, agar hati ini selalu peka dalam menghalau noda-noda maksiat yang merusak kemurniannya yakni dengan selalu meneladani semangat perjuangan generasi pendahulu kita, sahabat Radhiallahu ‘anhum.

Di akhir catatan ini sahabat mengajak pembaca sekalian untuk bertafakkur sejenak, merenung kira-kira apa yang akan dihadapi setiap insan yang bernyawa (apa hayoo..)?. Benar, tiada lain dan bukan melainkan kematian. Alhamdulillah selepas sholat ashar tiga hari yang lalu, si empunya catatan bersama sang partner berziarah ke Al Baqi’, pekuburan kaum muslimin di sebelah timur masjid nabawy. Di sini pulalah Ibunda kaum Muslimin dan ribuan sahabat Nabi disemayamkan. Selaras dengan sabda Rasulullah bahwa "orang yang paling Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas".’(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).

Thoyyib, sampai di sini dulu sahabat madinah mengakhiri catatan perjalanan selama sebulan pertama di madinah. Mudah-mudahan secuil kenikmatan ini tidak membuat lupa diri membuat si empunya catatan bahkan justru semakin menambah rasa syukur dan ketaatannya kepada Allah dengan memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan belajar di negeri ini.
Yupz, jadikanlah semua aktivitas kita selalu terhiasi dalam nuansa ketaatan kita kepada Allah sebagaimana pesan Syaikh DR. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad “As Sa’aadah biyadillaah Laa Tunaalu illaa bithoo’atillah”, artinya kebahagiaan itu berada di tangan Allah, dan tidaklah ia diperoleh kecuali hanya dengan ketaatan kepada Allah”.

Tak lupa Sahabat  nitip salam plus memendam rindu kepada keluarga dan semua kawan sahabat semasa SD-SMP-SMA. Mudah-mudahan mereka dan semua pembaca note ini Allah berikan kemudahan bisa berkunjung ke Kota Nabi Al Madinah Al Munawwaroh, terlebih lagi bisa menuntut ilmu menyusul sahabat madinah , aamien.


Kota Nabi, 28 Rabiuts Tsani 1433 / 21 Maret 2012
09.00 (GMT+3) 13.00 WIB.